HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Menuhuk Kawan Sairing

By On January 11, 2016

Menuhuk Kawan Sairing
Zamri Yahya, Wakil Ketua PK KNPI Kuranji Kota Padang. 
“MENUHUK kawan sairing,” pepatah ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Lengkapnya pepatah itu berbunyi, “Menuhuk kawan sairing, mangguntiang dalam lipatan.” Secara lugas pepatah ini berarti menohok teman sendiri yang dalam keseharian sering bergaul dengan kita.

Dia sudah kita anggap seperti saudara kandung, bagian dari perjalanan hidup kita, seprofesi, teman se kerja, teman se kantor, dan mungkin saja teman selapik se ketiduran (teman yang sering tidur bersama kita, susah senang dijalani bersama), namun tak ada angin, tak ada hujan aib pribadi kita yang seharusnya dijaganya, tetapi malah dibukanya kehadapan publik, agar semua orang tahu akan kejelekan kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (An-Nur Ayat 19).

Dalam hidup, teman seperti inilah yang paling sering mencelakai kita, sebab semua rahasia kita dia tahu dan sewaktu-waktu dia bisa saja membocorkan dan menceritakan kepada orang lain. Tipikal perangainya tak ubahnya seperti orang Yahudi, semuanya hanya diukur dengan kepentingan praktis tanpa mempertimbangan hubungan pertemanan yang telah terjalin selama ini.

Orang seperti ini, “mulutnya manis, kucindan murah,” selagi berteman dan punya kepentingan dengan kita. Namun, ketika dia menganggap kita tidak bermanfaat lagi bagi dirinya, dia akan mencampakan kita, bahkan kalau perlu membunuh karakter kita. Tujuannya tentu merusak hubungan sosial kita yang telah terbina di tengah-tengah masyarakat selama ini.

Baginya uang adalah Tuhan, semuanya diukur dengan uang. Untuk mendapatkan uang itu, tak mustahil kita sebagai temannya dikorbankan walau otak kita berfikir itu tidak mungkin dilakukan teman kita sendiri, sebab bagi kita teman adalah teman, malu teman adalah malu kita.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara.” (Al Hujarat Ayat 10).

Namun baginya hubungan pertemanan hanya sekedar hiasan kehidupan.

Tak dipungkiri dalam menempuh lika-liku kehidupan kita sering melakukan kekhilafan. “Kaki nan talangkahan ka nan gawa, tangan tajambauan indak ditampeknyo,” alamat badan menanggung dosa. Dosa kepada manusia yang kita rugikan kita minta maaf, dosa kepada Tuhan kita minta ampun.

Kita tidak boleh munafik dalam hidup ini, merasa sok suci tak pernah melakukan kesalahan. Kalau penyakit ini yang hinggap pada badan diri, alamat sombong akan tiba, orang dimatanya salah semua, tiada patut pintu tobat baginya. Padahal, Tuhan sendiri selalu membuka pintu tobat yang selebar-lebarnya bagi hamba-Nya.

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Az-Zumar Ayat:53). “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur ayat 31).

Kita harus berani mengakui diri kita penuh noda dan dosa. Sebab pengakuan itu penting artinya agar kita tak sombong kepada Tuhan. Sifat sombong adalah sifat yang sangat dibenci Tuhan.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita yang lain karena boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita-wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (Al-Hujarat ayat 11).

“...dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (Al Hujarat ayat 12).

Sudahkah kita sesuci Nabi Muhammad SAW sehingga kita berani membuka aib pribadi teman sendiri. Kalau tidak, kenapa tuan melakukan itu? Bukankah itu namanya, “Memercik air di dulang, terpercik muka sendiri.”

Tuan buka aib orang, tapi nyatanya prilaku tuan lebih parah dari itu. Orang hanya mungkin satu kali melakukan, tapi tuan sudah tak terhitung kalinya. Apakah tuan tak punya malu mengatakan diri tuan suci dan tak pernah melakukan itu...?

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus.

Tak Perlu Memaksa Orang untuk Mengikuti Keyakinan Tertentu

By On January 11, 2016

Tak Perlu Memaksa Orang untuk Mengikuti Keyakinan Tertentu
Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua PK KNPI Kuranji Kota Padang. 
AKHIR - akhir ini muncul sekelompok manusia yang mengaku pejuang Islam, tetapi dalam setiap aksinya malah beringas. Mereka melakukan pembunuhan, bahkan aksi pembunuhan mereka lakukan terhadap umat Islam yang berbeda pandangan dengan mereka dan menolak mengakui ajaran yang mereka bawa.

Tak hanya itu, ISIS juga memaksa umat beragama lain untuk menyakini ajaran Islam versi mereka. Bagi yang menolak, maka akan dibunuh dengan cara yang kejam, seperti yang dialami orang kristen Irak yang menjadi target ISIS. Padahal, Islam mengajarkan tidak ada paksaan dalam soal keyakinan dan beragama. Tugas para Nabi Allah hanya sebatas menyeru, soal diterima atau tidak, maka itu urusan masing-masing individu dengan segala konsekuensi dan akibatnya.

Allah berfirman dalam Surah Yunus Ayat 99, "Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?"

Akan tetapi hikmah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghendaki, bahwa di antara mereka ada yang mukmin dan ada yang kafir.  Salah satu perkara yang perlu bagi Allah adalah memberi petunjuk kepada manusia.

Adapun Allah, Dia tidak ingin memaksa manusia untuk beriman kepada-Nya, bahkan Allah SWT memberi kebebasan dan ikhtiar kepada mereka mau menerima kebenaran atau tidak. Sudah barang tentu apa saja yang dipilih oleh manusia, maka ia harus menanggung konsekuensi dan akibatnya.

Sekalipun Allah SWT telah menunjukkan jalan yang lurus kepada manusia, akan tetapi manusia itu bebas dan merdeka memilih jalannya sendiri. Dari sanalah Nabi Saw tidak perlu memaksa manusia untuk beriman, dan tidak pula harus sedih terhadap orang-orang kafir, lantaran mereka tidak mau beriman. Lalu Allah Swt berbicara kepada Nabi-Nya dengan mengatakan, "Kalian tidak perlu menunggu manusia beriman, apalagi memaksa mereka semua untuk beriman."

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:

1. Iman kepada Allah berdasarkan pilihan memiliki nilai setelah sebelumnya mengadakan pengkajian dan perenungan, bukan semata-mata berdasarkan pemaksaan. Karena iman yang sedemikian ini bukanlah iman yang sebenarnya.

2. Nabi Muhammad Saw dalam rangka memberi petunjuk dan hidayah kepada manusia, atas dasar keprihatinan dan kecemasan beliau. Karena itu Allah Swt menenangkan Nabi-Nya tersebut.

Untuk beriman atau tidak beriman; untuk menjalankan atau tidak menjalankan perintah Allah; adalah pilihan bebas manusia. Kebebasan ini, selain dijamin oleh hak-hak asasi manusia (HAM), juga dijamin oleh Allah SWT. Dalam ayat 99 Surah Yunus tersebutjelas disebutkan bahwa Allah tidak pernah memaksa manusia untuk beriman atau tidak beriman.

Hanya saja, perlu digaris bawahi bahwa setiap pilihan bebas manusia pasti ada konsekuensinya. Apa pun pilihannya, akibatnya akan kembali pada dirinya. Manusia yang beriman dan taat kepada Allah dijanjikan kebahagiaan di akhirat kelak. Sebaliknya yang tidak beriman dan tidak taat akan menerima sanksi dan hukuman yang berat.

Ayat 99 Surah Yunus ini menerangkan bahwa jika Allah swt. berkehendak agar seluruh manusia beriman kepada-Nya, maka hal itu akan terlaksana, karena untuk melakukan yang demikian adalah mudah bagi-Nya. Tetapi Dia tidak menghendaki yang demikian.

Dia berkehendak melaksanakan sunah-Nya di alam ciptaan-Nya ini. Tidak seorang pun yang dapat merubah sunah-Nya itu kecuali jika Dia sendiri yang menghendakinya. Di antara sunah-Nya itu ialah memberi manusia akal, pikiran dan perasaan yang membedakannya dengan malaikat dan makhluk-makhluk yang lain.

Dengan akal, pikiran dan perasaannya itu manusia menjadi makhluk yang berbudaya, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, baik untuk dirinya, untuk orang lain maupun untuk alam semesta ini. Kemudian manusia diberi balasan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya itu; perbuatan baik dibalas dengan pahala dan perbuatan jahat dan buruk dibalas dengan siksa.

Di samping itu Allah swt. mengutus para Rasul untuk menyampaikan agama-Nya. Agama itu menerangkan kepada manusia mana yang baik dilakukan dan mana yang terlarang dilakukan. Manusia dengan akal, pikiran dan perasaan yang dianugerahkan Allah kepadanya dapat menilai apa yang disampaikan para Rasul itu.

Tidak ada sesuatu paksaan bagi manusia dalam menentukan pilihannya itu, apakah yang baik atau yang buruk. Dan manusia akan dihukum berdasar pilihannya itu.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus.

Saran Untuk Buya Mahyeldi: Pejabat ABS, Copot Aja !

By On January 11, 2016

Saran Untuk Buya Mahyeldi : Pejabat ABS, Copot Aja !
Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua PK KNPI Kuranji Kota Padang. 
SENIN (14/12/2015), Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Padang menggelar pemetaan jabatan eselonering di jajaran Pemerintah Kota Padang. Pemetaan jabatan dilaksanakan melalui ujian kompetensi dengan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT). Ujian tersebut diikuti ribuan pejabat eselon yang bertujuan untuk mendukung reformasi birokrasi melalui upaya menata kembali tata kelola pegawai.

Sebagaimana dijelaskan Asnel, Kepala BKD Kota Padang, tujuan penting pemetaan jabatan ini yakni untuk melakukan penempatan pegawai sesuai dengan kemampuannya. Sebab, melalui pemetaan jabatan ini akan diketahui dimana posisi atau tempat yang cocok bagi ASN yang ikut dalam ujian pemetaan tersebut. Penjelasan Asnel ini tentu saja memberikan sinyal, dalam waktu dekat akan ada mutasi besar-besaran yang akan dilakukan di lingkungan Pemerintah Kota Padang.
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha melihat." (QS. An-Nisa ayat 58).

Buya Mahyeldi, selaku orang yang diberikan amanah oleh Allah SWT memimpin Ranah Bingkuang, tentu saja tidak ingin kepemimpinannya gagal. Sebagai seorang pemimpin yang selama ini dianggap amanah dan dekat dengan masyarakat, bersama Wakil Walikota Padang H Emzalmi, Buya Mahyeldi bertekad mewujudkan sepuluh program unggulan yang sebelumnya merupakan janji kampanye kepada warga Kota Padang.

Sepuluh program unggulan Mahyeldi-Emzalmi (Mahem) tentu saja memiliki satu tujuan, yaitu mensejahterakan warga kota. Sebab, tujuan utama dari program pemerintah adalah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan merata, tanpa adanya diksriminasi dalam bentuk apa pun. Makanya warga kota mempercayakan amanah kepemimpinan itu kepada Mahem, karena warga kota menganggap sepuluh program yang dijanjikan dianggap realistis dan mampu mewujudkan kesejahteraan bagi warga Ranah Bingkuang ini.

Untuk mewujudkan sepuluh program unggulan tersebut, sehingga masyarakat merasakan nyata perubahan ke arah yang lebih baik selama kepemimpinan Mahem di kota ini, diperlukan pejabat yang betul-betul ahli, profesional, jujur dan memiliki integritas yang baik. Bukan pejabat yang bermental lama, yang dikenal dengan istilah "Asal Bapak Senang" yang kerjanya hanya menjilat, tetapi hasil kerjanya nol atau tidak sesuai harapan.

Sebagai seorang da'i yang sudah lama bergelut di bidang dakwah, tentunya Buya Mahyeldi sangat paham tuntunan Islam dalam menempatkan seseorang pada jabatannya. Jabatan yang diberikan pada seseorang bukannya kenikmatan, tetapi sebenarnya merupakan sesuatu yang amat berat dan harus dipertanggungjawabkan kepada Allah di hari kiamat kelak, yang hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan bagi orang yang tidak dapat memikul amanah itu dengan baik.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seseorang dalam jabatan ini pada orang yang menginginkan, dan tidak (pula) pada orang yang berambisi pada jabatan itu." (HR. Bukhari dan Muslim). "Barangsiapa yang mengangkat seseorang untuk suatu jabatan karena kekeluargaan (golongan), padahal ada pada mereka itu orang yang lebih disenangi Allah (karena kemampuan) dari padanya, maka sesungguhnya ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada orang-orang beriman." (HR. Hakim). "

Dalam sebuah kesempatan, penulis pernah menyampaikan langsung kepada Buya Mahyeldi agar dalam mengangkat pejabat terlebi dahulu mengutamakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Padang. Apa sebab ? Sebagai ASN yang sudah lama bertugas di Kota Padang, tentu mereka sangat paham persoalan pelik di kota ini.

Lagian, banyak diantara ASN Pemko Padang tersebut yang pintar secara akademik, dan cakap dalam melaksanakan tugas, namun faktor keberuntungan tidak berpihak kepada mereka selama ini, sehingga dalam setiap mutasi, nama mereka selalu hilang ditelan zaman. Faktor keberuntungan yang penulis maksud adalah orang-orang yang bermental bagus yang tidak suka menjilat dan meminta-minta jabatan, sehingga pimpinan tidak melirik mereka sedikit pun. Atau mereka yang tidak memiliki "jagoan" secara politik yang mendorong mereka pada jabatan tertentu.

Atau mereka yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan Kepala Daerah, Pimpinan dan anggota dewan, dan pejabat teras di Pemko Padang. Apatah lagi, sudah menjadi rahasia umum, untuk menjadi seorang pejabat pada jabatan eselon tertentu di negeri ini, link pada pusat kekuasaan sangat menentukan. Jika tidak ada link atau "tukang anjuangan", jangan diharap akan dapat menduduki jabatan tertentu. Link itu bisa saja kedekatan dengan keluarga Kepala Daerah, kedekatan dengan pimpinan dan anggota dewan, kedekatan dengan Tim Sukses, atau lingkaran kekuasaan lainnya.

Sebagai orang yang pernah mengenal Buya Mahyeldi, bahkan sempat beberapa kali berdiskusi dengannya, baik ketika penulis masih aktif di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) maupun setelah itu, penulis memiliki suatu keyakinan Buya Mahyeldi adalah sosok pemimpin yang amanah dan profesional dalam menjalankan amanah jabatan yang dia emban. Buya Mahyeldi tidak suka kepada seorang penjilat yang meminta-minta jabatan, dia pun tidak suka mencampur adukan peran keluarga dengan jabatan yang dia sandang, dia pun bukanlah tipikal pemimpin yang "dibelenggu" partai pengusungnya pada saat Pilkada. Buya Mahyeldi lebih suka mengangkat seseorang pada jabatan tertentu berdasarkan pertimbangan rasional kemampuan dan keahlian, kinerja yang bersangkutan dalam bekerja, integritas dan kejujuran yang bersangkutan, dan profesionalitas dalam mengemban amanah jabatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut." (Muslim).. "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya, "bagaimana maksud amanat disia-siakan?" Nabi menjawab, "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu." (HR Bukhari).

Kegagalan seorang Kepala Daerah lebih sering disebabkan kekurang cakapan dalam memilih pembantu. Faktor kedekatan, faktor suka tidak suka, faktor kekeluargaan, dan pertimbangan politis yang salah, sering menjerumuskan Kepala Daerah dalam menentukan siapa menduduki jabatan apa ? Akibatnya, program yang dijanjikan kepada masyarakat ketika kampanye tidak terwujud dengan baik, karena Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan jajarannya tidak mampu dalam melaksanakan program kegiatan yang telah mereka susun. Ini dapat dibuktikan dengan rendahnya serapan atau realisasi dana APBD di suatu daerah.

Beberapa hari lalu, penulis sempat berdiskusi dengan beberapa orang pejabat teras di lingkungan Pemerintah Kota Padang. Menurutnya, masih banyak SKPD yang serapan APBD dalam pelaksanaan kegiatan jauh dari harapan. Bahkan, sampai minggu ini, ada SKPD yang baru mencapai 54 persen. Padahal, bulan Desember merupakan detik-detik terakhir yang sangat menentukan, berhasil atau tidaknya sebuah SKPD membelanjakan uang APBD yang telah dianggarkan untuk program kegiatan yang telah mereka susun.

Jika serapannya mencapai 90 persean ke atas, maka kinerja SKPD dalam mengelola kegiatan dan anggaran dapat dikatakan sangat bagus. Apabila serapannya hanya 75-90 persen, maka bisa dikatakan SKPD tersebut tidak memiliki prestasi yang mencolok dalam pelaksanaan program yang mereka susun. Apatah lagi, jika serapan di bawah 75 persen, sudah dapat dipastikan SKPD tersebut akan mengantongi rapor merah.

Kepala SKPD yang tidak mampu mencapai terget serapan APBD, menurut teman penulis, merupakan Kepala SKPD yang 'ngangak' alias bodoh, tidak memahami program di dinas yang dipimpinnya alias tidak tahu dengan tupokasi tugasnya. Alamat dia adalah seorang pejabat yang gagal, yang tidak layak dipertahankan pada jabatannya. Sebab, rendahnya serapan APBD berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah yang berujung pada gagalnya pencapaian program Kepala Daerah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfaal ayat 27). "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh." (QS. al-Ahzab ayat 72).

Menurut Rusdi Lubis, mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Barat, sebagaimana dimuat salah satu harian lokal di daerah ini, setiap SKPD harus memahami kinerja dan serapan setiap bulannya. Seperti kapan APBD akan dicairkan, setelah itu masuk tender dan pengerjaan. Masing-masing SKPD harus memahami itu, sehingga serapan anggaran untuk pembangunan berjalan sesuai rencana dengan catatan tidak asal-asalan.

Dia mengatakan, ada yang harus diperhatikan oleh masing-masing SKPD yakni koordinasi dengan pihak terkait, sehingga apa yang sudah direncanakan di awal tahun bisa terwujud. Selain itu, dorongan dan pengawasan harus terus dilakukan agar kinerja sesuai dengan rencana. Dan yang terpenting, SKPD harus memahami semua aturan yang ada mulai dari penggunaan anggaran, undang-undang yang mengatur serta proses tender.

Selain karena masih banyaknya proyek dalam proses tender, persoalan yang menyebabkan serapan rendah, karena ketakutan pejabat tersangkut  kasus hukum. Hal itu agaknya menjadi momok besar bagi sebagian pejabat pengguna anggaran di lingkungan Pemko Padang. Menurut Buya Mahyeldi, saat membuka kegiatan sosialisasi UU No. 30 Tahun 2014 Tentang Administrasi Pemerintahan, Selasa (15/12), fenomena itu dapat dilihat , saat ini banyak penyelenggara pemerintahan yang berhadapan dengan kasus hukum. Baik karena tertangkap tangan maupun karena adanya laporan masyarakat.

Lebih jauh, Buya Mahyeldi menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah karena mereka kurang memahami tata cara penyelenggaraan administrasi yang berpedoman pada AUPB, sehingga kebijakan yang diambil bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.Lahirnya UU No. 30 tahun 2014 merupakan solusi dalam upaya memberikan perlindungan hukum bagi pejabat pemerintahan dan warga masyarakat. UU ini menjadi landasan dalam mengambil suatu kebijakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu." (QS. Al-An’am ayat 123). "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat ‘adzab yang pedih." (QS. Asy-Syuuraa ayat 42). "Barangsiapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya." (HR. Muslim). "Tidak seorang pemimpin pun yg mengurusi perkara kaum muslimin, kemudian dia tak bersungguh-sungguh bekerja untuk mereka dan menasihatinya, kecuali ia pasti tak akan masuk surga bersama mereka." (HR. Muslim No.205).

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus.

"Merayu" Investor Asal Malaysia

By On January 11, 2016

"Merayu" Investor Asal Malaysia
Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua PK KNPI Kuranji. 
SAMPAI saat ini, Malaysia merupakan negara yang menempati posisi tertinggi berinvestasi di Indonesia. Untuk tahun 2015 ini saja, nilai investasi Malaysia adalah 2,6 miliar dolar AS. Pada tahun sebelumnya, investasi Malaysia hanya 1,8 miliar dolar AS, sedangkan pada semester I 2015 sudah dapat mencapai 2,69 miliar dolar AS.

Menurut Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis, Malaysia investasi besar di bidang telekomunikasi. Peningkatan investasi Malaysia di luar Jawa terbilang cukup menggembirakan. Hal ini terjadi lantaran ada perluasan jaringan dan kualitas data milik perusaan-perusaahan telekomunikasi Malaysia di Indonesia seperti XL Axiata.

Besarnya investasi Malaysia di Indonesia, tentu memiliki harapan tersendiri bagi Sumatera Barat. Betapa tidak, secara historis dan budaya, antara Ranah Minangkabau dengan Malaysia memiliki ikatan yang cukup kuat. Keturunan Minang di Malaysia ini memiliki komunitas sendiri, di wilayah sendiri dengan budaya Minang yang masih berlangsung secara umum tetapi telah tercampur dengan budaya setempat. Mereka telah menjadi warga negara Malaysia sejak beberapa keturunan. Wilayah utama kaum Minangkabau di tanah Melayu ini adalah di Negeri Sembilan.

Warga Malaysia keturunan Minang ini masih memiliki rasa keminangan tetapi praktis tidak bisa lagi berbahasa Minang. Sesekali mereka masih menyempatkan pulang ke ranah Minang menjalin hubungan dengan sanak saudara dan berusaha mencari silsilah keturunan. Kepulangan ini sangat begitu mudah karena jalur penerbangan dan laut yang semakin mudah dan murah yang menghubungkan Malaysia dengan Sumatera Barat.

Puta Malaysia keturunan Minang pun banyak pula menjabat jabatan penting di Malaysia. Bahkan Raja pertama Malaysia (Yang Dipertuan Agung I), Tuanku Abdul Rahman, Sultan Negeri Sembilan, asli berdarah Minang. Beberapa orang keturunan Minang yang tercatat dalam sejarah bangsa Malaysia adalah : Abdul Karim Rashid (Pejuang kemerdekaan Malaysia), Abdul Rahim Kajai (Bapak kewartawanan Melayu dan pejuang masyarakat Melayu), Abdul Samad Idris (Pernah menjadi Menteri Malaysia, sejarawan, wartawan), Adnan bin Saidi (Militer dan pahlawan kemerdekaan Malaysia).

Nama lainnya adalah : Hamdan Sheikh Tahir (Gubernur Penang dan tokoh pendidik Malaysia), Rais Yatim (Menteri Komunikasi, Informasi, dan Kebudayaan Malaysia), Rashid Maidin (Pemimpin Partai Komunis Malaysia dan pejuang kemerdekaan Malaysia), Rosmah Mansor (Istri Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak), Shaziman Abu Mansor (Menteri dan Politisi Malaysia), Tan Sri Norma Abas (Hakim Besar Malaysia), Tuanku Jafar (Yang Dipertuan Agong), Tuanku Najihah (Raja Permaisuri Agong Malaysia kesepuluh), Tunku Kurshiah (Raja Permaisuri Agong Malaysia pertama), Tunku Tan Sri Abdullah (Pendiri Melewar Corporation Malaysia), dan masih banyak lagi yang lain.

Tentunya, ikatan sejarah, ikatan budaya, dan ikatan darah antara Ranah Minangkabau dan Malaysia merupakan potensi untuk menjalin kerjasama antara kedua bangsa serumpun ini. Maka kepiawaian Kepala Daerah di Sumatera Barat dituntut untuk dapat 'merayu' pejabat dan pengusaha asal Malaysia untuk berinvestasi di Ranah Minang. Tentu saja, promosi terhadap potensi yang ada di daerah ini perlu dilakukan kepada para investor Malaysia tersebut. Apatah lagi, gubernur terpilih Sumatera Barat dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) tanggal 9 Desember 2015 yang lalu merupakan alumnus Universitas Putra Malaysia (UPM).

Beberapa potensi investasi sumber daya yang dimiliki Sumatera Barat merupakan kegiatan ekonomi yang menguntungkan terutama untuk sektor-sektor unggulan, di antaranya adalah sektor energi dan sumber daya mineral, perikanan, kelautan, pariwisata serta sektor industri. Di bidang perkebunan, daerah ini memiliki komoditi gambir sebagai bahan baku industri kesehatan yang tidak dimiliki oleh provinsi lain di Indonesia, dimana 85% ekspor gambir Indonesia berasal dari Sumatera Barat.

Selain itu, Sumbar mempunyai ratusan ribu ha kelapa sawit yang sangat produktif dengan potensi pengembangan industry hilir CPO, refinery CPO, maupun perdangangan  langsung CPO. Tak hanya itu, Sumbar juga memiliki potensi energi terbarukan seperti panas bumi, tenaga air dan bio energy juga melimpah di Sumatera Barat. Sumatera Barat setidaknya mempunyai 17 titik sumber panas bumi geothermal yang bila diusahakan akan dapat menghasilkan sekitar 1600 MW listrik. Di saat semakin mahalnya dan langkannya bahan bakar fosil, bahkan diperkirakan beberapa tahun mendatang sumber tersebut akan habis, maka eksploitasi geothermal menjadi energi listrik akan sangat menjanjikan bagi investor.

Peluang-peluang investasi tersebut, tentu sangat menjanjikan bagi investor yang ingin berinvestasi di daerah ini. Dan investor Malaysia, jika piawai melobi mereka, maka sudah pasti tertarik untuk berinvestasi di Sumatera Barat. Ikatan historis, budaya, bahkan tali darah tentu saja akan dapat membikin investor asal Malaysia nyaman berinvestasi di Ranah Minang.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus.

Tak Siap Menerima Kekalahan

By On January 11, 2016

Tak Siap Menerima Kekalahan
Ditulis Oleh: Zamri Yahya, Wakil Ketua PK KNPI Kuranji. 
IKUT dalam kompetisi memperebutkan kursi panas Gubernur dan Wakil Gubernur atau Bupati dan Wakil Bupati atau Walikota dan Wakil Walikota dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) itu ibarat bermain judi. Betapa tidak, orang akan mengeluarkan duit sekian banyaknya untuk mendapatkan tiket ikut serta dalam Pemilukada, belum lagi biaya kampanye.

Demikian juga para penjudi, mereka terlebih dahulu memasang taruhan dalam segala bentuknya, bisa berupa uang, barang atau surat-surat berharga untuk dapat ikut dalam permainan judi tersebut. Namun, kemenangan yang diharapkan belum tentu akan diraih, yang pasti angan-angan untuk menang sudah pasti akan didapat.
"Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.(QS. As-Sajdah ayat 24). "Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura ayat 27).

Terkadang orang sering lupa dengan ini. Bahwa mengangkat seorang pemimpin itu hak mutlak Allah, baik itu pemimpin di kalangan kaum muslimin maupun dikalangan orang kafir. Manusia hanya menjalani proses yang ada, agar kekuasaan itu dapat diraih. Tapi rambu-rambunya, tidak boleh menghalalkan segala cara, karena itu dilarang Allah SWT. Tuhan, Penguasa Alam Semesta ini sudah menentukan batasan dan ukuran, dan Maha Mengetahui mana hambanya yang layak diberi amanah kepemimpinan.

Kondisi yang sama juga dialami oleh calon Kepala Daerah, mereka selalu berangan-angan untuk menang dalam Pemilukada. Kalau didengar perkataan tim sukses, alangkah sejuknya kira-kira, karena kemenangan sudah di depan mata. Tak tahu mereka, kalau tim sukses lebih banyak berkata 'bohong' demi menyenangkan kandidat yang mereka usung untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan.

Pada saat pemilihan digelar, bertambah harap-harap cemas sang kandidat, berdetak kencang jantung mereka, karena menurut tim sukses, dirinya akan menang di semua TPS yang telah dikuasai. Masyarakat pasti memilih diri mereka. Tapi apa lacur, omongan tim sukses tidak terbukti kebenarannya, karena mereka pun berbicara tidak pakai data yang valid, semisal survai dari lembaga yang memang diakui validitas hasil survainya.

Akhirnya, untuk menutup malu, dan menyenangkan hati donatur, dicari-carilah kesalahan lawan yang menang pilkada. Tim sukses pun ikut mendorong, dan berupaya mencari celah dan data untuk itu. Surat pun dilayangkan kepada lembaga penyelenggara pemilu agar penetapan hasil pemilukada ditangguhkan, laporan pun dimasukan ke lembaga pengawas pemilu, dan gugatan pun dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi yang berhak menyidangkan perkara perselisihan pemilu.

Ini menandakan tak siap menerima kekalahan. Bedanya dengan penjudi, jika mereka kalah, penjudi malah siap menerima kekalahan. Tetapi calon kepala daerah, malah banyak yang tak siap menerima kekalahan itu. Padahal, kalah menang dalam proses demokrasi Pemilukada, itu hal biasa. Agaknya, suasana Pilpres sudah mulai menjangkit ke daerah. Tak terima kalah, ujungnya saling fitnah.

Masing-masing tim sukses pun perang urat saraf di media sosial. Bahkan, tak jarang berujung pemutusan hubungan silaturahmi di dunia nyata. Tak lagi saling tegur sapa. Padahal sebelum Pemilukada, mereka "konco palangkin" yang sangat sulit dipisahkan. Itu antar tim sukses. Kericuhan pun tak jarang terjadi antara pendukung satu pasang calon. Kemenangan di depan mata harus dikungkung, jangan ada yang mengatakan 'lebih berjuang' dari dia. Kalau dapat kesalahan sekecil apa pun, teman yang tadi satu tim, harus dicampakan.

Ya, itulah Pemilukada. Pemilihan usai, menyisakan 'kada' (borok/luka, red). Kalau tak kuat iman, bisa dibikinnya gila. Panjang angan-angan, menghayal, akan dapat jabatan bergengsi dan akan menikmati fasilitas, karena calon yang didukung dan diusung sudah menang. Bagi tim sukses yang jagoannya kalah, juga masih berangan-angan. Jika gugatan dikabulkan, maka kemenangan akan berbalik. Diulang sejarah lama, mungkin saja Tuhan akan mengabulkan.
Dalam suatu kesempatan, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabatnya, "Apakah kalian semua ingin masuk surga?" Para sahabat menjawab, 'Tentu ya Rosulullaah.' Beliau lalu bersabda, "Kalau begitu jagan banyak angan-angan. Letakkan ajal kalian di depan mata. Dan merasa malulah kepada Allah dengan sungguh-sungguh." (HR. Ibnu Abu Dunya). "Golongan pertama dari umat ini selamat karena keyakinan dan zuhud. Dan golongan terakhir dari umat ini binasa karena kekikiran dan angan-angan." (HR. Ibnu Abu Dunya).


Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq, semoga Allah menuntun kita ke jalan yang paling lurus.

Contact Form

Name

Email *

Message *